BNPB: Cuaca ekstrem dominasi bencana pada 21-22 Januari

1 week ago 23
Hujan dengan intensitas deras yang disertai angin kencang memicu kejadian tanah longsor, kerusakan bangunan, serta tumbangnya pohon di beberapa daerah

Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bencana hidrometeorologi basah, khususnya cuaca ekstrem yang berupa hujan deras disertai angin kencang, mendominasi kejadian bencana di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 21 - 22 Januari 2026.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Kamis, mengatakan dihimpun berdasarkan pemantauan Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BNPB sejumlah provinsi terdampak cuaca ekstrem, antara lain Banten, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan, dengan dampak berupa kerusakan rumah warga serta gangguan aktivitas masyarakat.

"Hujan dengan intensitas deras yang disertai angin kencang memicu kejadian tanah longsor, kerusakan bangunan, serta tumbangnya pohon di beberapa daerah," kata Abdul Muhari

Menurut dia, sebagian wilayah terdampak saat ini masih berada dalam status siaga darurat bencana hidrometeorologi yang ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat.

Baca juga: Cuaca ekstrem, 25 rumah di Gianyar Bali rusak diterjang angin kencang

Banten menjadi salah satu daerah yang berstatus darurat bencana tersebut setelah sembilan kecamatan yang meliputi Cikedal, Cadasari, Cipeucang, Pagelaran, Carita, Cisata, Sindangresmi, Sukaresmi, dan Cimanuk, dilanda tanah longsor.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten menetapkan status siaga darurat melalui Keputusan Gubernur Nomor 684/2025 Tentang Penetapan Status Siaga Darurat bencana yang berlaku aktif sampai dengan 19 Maret 2026

Pusdalops BNPB mencatat sebanyak 16 Kepala Keluarga (KK) atau 64 jiwa terdampak akibat peristiwa tersebut, dengan kerugian materi meliputi satu rumah rusak berat, dua rumah rusak sedang, serta 13 rumah rusak ringan.

Baca juga: BNPB lakukan modifikasi cuaca, reduksi hujan di Banten

Abdul memastikan BNPB terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan unsur terkait untuk memastikan penanganan darurat berjalan cepat, tepat, dan terkoordinasi.

Selain penanganan darurat, lanjutnya, BNPB juga mendorong pemerintah daerah (pemda) untuk melakukan langkah mitigasi guna mengurangi risiko bencana susulan.

"Masyarakat di wilayah rawan diimbau meningkatkan kewaspadaan mengingat potensi cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari ke depan," ucap Abdul Muhari.

Baca juga: BPBD: Lima kecamatan di Tangerang masih terendam banjir

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article