Standar Turun-temurun: "Kenapa Harus jadi PNS?"

10 hours ago 8
Ilustrasi PNS. Foto: AgungKurnia Yunawan/Shutterstock

Di pelosok pedesaan, sebuah narasi lama masih terus direproduksi: kesuksesan seorang anak diukur dari seragam cokelat yang dikenakannya. Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) seolah menjadi "puncak gunung" pencapaian. Di balik keinginan luhur orang tua untuk menjamin masa depan anak, tersimpan beban ekspektasi dan gengsi sosial yang sering kali menjadi penjara mental bagi generasi muda.

Berbeda dengan masyarakat perkotaan yang mungkin lebih akrab dengan ekosistem bisnis keluarga atau profesional swasta, masyarakat pedesaan cenderung melihat PNS sebagai satu-satunya jalan keluar menuju stabilitas ekonomi. Ironisnya, dorongan ini sering kali bukan murni demi kesejahteraan anak, melainkan demi menjaga martabat keluarga di mata tetangga.

Bagi orang tua yang merasa dirinya terpandang, ada ketakutan kolektif jika strata sosial anak mereka merosot. Akibatnya, anak dipaksa mengikuti jalur yang dianggap "aman" dan "terhormat", tanpa memedulikan apakah jalur tersebut sesuai dengan minat dan bakat sang anak.

Dampak Psikologis: Saat Gagal jadi "Pilihan"

Ilustrasi gagal. Foto: Kanjanee Chaisin/Shutterstock

Standar keberhasilan yang kaku ini menyimpan bahaya laten bagi kesehatan mental. Ketika seorang anak gagal menembus seleksi ketat birokrasi, mereka tidak hanya merasa gagal secara personal, tetapi juga merasa telah mengecewakan marwah keluarga.

Tanpa bimbingan psikologis yang tepat, tekanan ini kerap berujung pada stres berat hingga perilaku destruktif sebagai bentuk pelampiasan. Orang tua sering kali menggunakan tameng "demi masa depan" untuk membenarkan tuntutan mereka. Padahal, dunia kerja hari ini telah mengalami perubahan yang drastis.

Memang benar, menjadi PNS menawarkan kenyamanan dari fluktuasi pasar. Ada gaji tetap dan aturan main yang linear. Namun, di sisi lain, zona nyaman ini berisiko menghambat perkembangan diri karena minimnya tantangan inovasi.

Ilustrasi PNS. Foto: Odua Images/Shutterstock

Sebaliknya, dunia bisnis atau industri kreatif menawarkan peluang yang jauh lebih luas. Meski penuh risiko bangkrut dan menuntut kewaspadaan tinggi terhadap persaingan, potensi kesejahteraan yang dihasilkan bisa jauh melampaui gaji pegawai tetap. Di era digital ini, akses menuju kesuksesan tidak lagi sesempit dulu. Seorang pebisnis muda di desa pun bisa meraih pasar global jika diberi ruang untuk berkembang.

Mendukung, bukan Menuntut

Sudah saatnya orang tua berhenti memaksakan definisi sukses mereka kepada anak. Sukses bukanlah sebuah produk massal yang hanya memiliki satu rupa, seperti seragam pegawai. Sukses adalah kemampuan individu untuk berjuang di bidang yang mereka kuasai dan cintai.

Tugas orang tua bukan menjadi "penentu arah" yang mutlak, melainkan menjadi sistem pendukung (support system) dan pembimbing. Biarkan anak menemukan "jalan ninjanya" sendiri. Karena pada akhirnya, masa depan yang dijamin oleh rasa bahagia dan kemandirian jauh lebih bernilai daripada sekadar status sosial yang dipaksakan.

Ilustrasi perempuan karier. Foto: Shutterstock

Edukasi mengenai literasi karier menjadi kunci bagi orang tua dalam memahami dinamika zaman yang kian dinamis. Kita perlu menyadari bahwa di era ekonomi digital, struktur pekerjaan telah mengalami dekonstruksi; nilai ekonomi tidak lagi hanya berputar pada administrasi negara, tetapi juga berputar pada kreativitas, penguasaan teknologi, dan kemampuan pemecahan masalah.

Menghargai pilihan anak untuk menjadi konten kreator, ahli IT, atau pengusaha muda bukanlah sebuah langkah mundur, melainkan bentuk adaptasi terhadap ekosistem lapangan kerja masa depan.

Dengan memberikan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi minatnya, orang tua sebenarnya sedang membantu mereka membangun ketahanan (resilience) dan kemampuan adaptasi yang jauh lebih berharga daripada sekadar jaminan slip gaji bulanan.

Read Entire Article